Sunday, October 11, 2020

>> Dongeng Inspiratif Marta Tilaar, Dahulu Tkw Sekarang Kaya Raya Berkat Bisnis Jamu

Kisah inspiratif seorang Martha Tilaar dimulai di saat ia tinggal di Amerika Serikat selama lima tahun demi merealisasikan mimpinya untuk bisa sekolah di Beauty Academy.

Berawal menjadi tenaga kerja perempuan (TKW), pada dikala itu Martha menyaksikan kesempatan akhir kian sibuknya ibu rumah tangga di Amerika sehingga tidak sempat untuk mengelola anak-anaknya, dari situlah ia berpikir untuk mnjadi baby sitter. Gaji yang ia temukan pribadi ditabung untuk membiayai sekolahnya di Negeri Paman Sam.

Akhirnya Martha Tilaar bisa mulai menempuh pendidikan di Beauty Academy, Amerika Serikat (AS). Keinginan untuk sekolah di mancanegara semata-mata untuk kian meyakinkan pemikirannya apabila ingin berhasil maka mesti dimulaidi luar negeri. Oleh karenanya, beliau tidak memutuskan Indonesia selaku tempatnya berguru kecantikan.

Pemikiran tersebut tiba-tiba berubah di saat dosennya di perguruan tersebut menyuruhnya menghasilkan paper selaku syarat kelulusannya tentang The Indigenous Make Up of Your Country  (make up khas negara asal).

Di situ Martha merasa ketakutan dan shock alasannya yakni ia tidak mengetahui apapun tentang kebudayaan Indonesia hingga karenanya Ia dibantu oleh seorang temannya untuk mempelajari tata rias Indonesia.

Hampir saja Martha tidak dapat lulus alasannya yakni ini namun ia cuma bisa berdoa terhadap Tuhan dan berjanji apabila lulus maka Ia akan pulang ke Indonesia dan menerapkan ilmu yang ia temukan tentang keelokan di Indonesia.

Rintis bisnis dari Garasi
Setelah lulus Martha menyanggupi janjinya untuk pulang ke Indonesia dan mulai merintis perjuangan kecil-kecilannya yang berawal dari garasi berskala 4x6 meter, tetapi hal itu tidak mulus ia lalui.

Mendapat olok-olokan dari orang lain yang menilai ia yakni orang asing yang ingin cepat kaya dan berhubungan erat dengan mistis alasannya yakni ia memasarkan ramuan herbal dan jamu sembari melakukan salonnya yang ternyata tidak laris di lingkungannya.

Hingga karenanya ia mempergunakan letak rumahnya di Jakarta yang bersahabat dengan komplek kedutaan besar aneka macam negara dengan menitipkan brosurnya terhadap loper Koran. Ia tidak dapat memasang iklan pribadi di koran alasannya yakni tidak adanya biaya.

Namun dengan cara itu justru beliau menjadi langganan para istri pejabat kedutaan besar, dari situ perlahan-lahan bisnis Martha berlangsung ditambah lagi dimuatnya dongeng hidupnya di buku seorang penulis berjulukan Jhonnys Beet pada halaman 202-203.

Tidak hingga di situ, Martha juga tetap konsentrasi pada bisnis jamunya yang juga ikut terkenal diseluruh dunia alasannya yakni dengan jamu yang ia olah bisa mematahkan vonis 4 dokter profesional yang sudah meyatakan bahwa Martha tidak akan bisa hamil, sekalipun bisa bayinya kemungkinan lahir dengan cacat. Pada usia 41 tahun Martha bisa melahirkan 2 anak yang sesuai dan cerdas.

Dari situ pula ia kian konsentrasi dengan bisnis jamunya hingga ke Belanda untuk mempelajari spesies jamu di Tex Herbarium, hingga ia diminta untuk menulis resep jamu dalam Bahasa Inggris.

Berkat kerja kerasnya, Martha sekarang menjadi usahawan berhasil dengan merek jualan Sariayu. Produk Sariayu tidak cuma dipakai di Indonesia namun juga sudah mendunia.

Selain berhasil dalam bisnis, Martha juga berhasil dalam jadwal kemanusiaan The Global Compact di mana ia bisa membina semua belum dewasa pedesaan yang mau dijual oleh keluarganya menjadi sarjana dan sukses. Hingga pihak NJO Paris menyatakan bahwa Martha dapat menjadi sosok ideal founder The Global Impact untuk PBB.

Dari kisah ini kita berguru bahwa siapapun dan darimanapun Anda berasal tidak membatasi untuk bisa sukses. Jika seorang “bakul jamu” saja bisa sukses, mengapa kita tidak?
(sumber)

1 comment:

  1. Thank you for sharing this useful information. Your article is very different and informational. You are described all points very clearly.

    Thank you again...

    ReplyDelete