Friday, August 28, 2020

>> Turki Mengancam Akan Berperang Dengan Amerika Bila Tak Serahkan Dalang Perebutan Kekuasaan Militer

Turki, Sabtu (16/7/2016), mengancam akan berperang dengan Amerika Serikat jikalau tidak mengekstradisi Fethullah Gulen (75), ulama yang dituding mendalangi upaya kudeta. Ancaman itu dijalankan sehabis Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali menegakkan kekuasaanya sehabis penangkapan 1.440 serdadu yang disangka terlibat upaya perebutan kekuasaan dan balasannya gagal.

Perdana Menteri  Binali Yildirim, sudah memastikan bahwa Turki menilai diri berperang dengan negara mana pun yang melindungi ulama Fethullah Gulen.

Turki mengancam akan perangi AS alasannya yakni mendukung Fethullah Gulen (kanan).

"Setiap negara yang melindungi Fethullah Gulen akan menjadi lawan bagi Turki," kata Yildirin sebagaimana dirilis media Inggris tersebut, Sabtu.

Berdasarkan laporan Agence France-Presse, Gulen yakni seorang ‘pengkhotbah yang tertutup’ dan beliau menetap di Pocono Mountains (Poconos), Negara Bagian Pennsylvania, AS. Sekarang Gulen tinggal di Golden Generation Worship and Retreat Center, suatu kompleks yang cukup luas di Saylorsburg, Poconos.

Gulen, yang senantiasa kritis kepada pemerintah Turki yang dinilainya condong tangan besi, sudah secara tetap dituding selaku dalang setiap kerja keras mendirikan “negara tandingan” (parallel state) di Turki. Pernyataan Yildirim dipandang selaku bahaya terselubung bagi AS biar mengalah Gulen, yang mengasingkan diri ke AS sebelum dijatuhi eksekusi alasannya yakni dituduh mengkhianati Turki.

Jika tidak menyerahkan Gulen, AS diancam bakal menghadapi konsekuensi diplomatik atau bahkan militer, menyerupai dilaporkan Daily Express. Gulen yakni pendiri gerakan Islam moderat yang melambungkan namanya, memelopori pembicaraan antaragama dan demokrasi multi-partai.

Dahulu Gulen  adalah sekutu akrab Erdogan. Namun,  keduanya balasannya berseberangan persepsi dalam bertahun-tahun terakhir sehabis Erdogan meragukan gerakan pimpinan Gulen, media, kepolisian, dan kehakiman. Gulen sudah mengeluarkan pernyataan bahwa beliau tidak terlibat dalam aneka macam planning perebutan kekuasaan atau acara apapun di Turki.

“Saya mengutuk dengan keras upaya perebutan kekuasaan militer di Turki. Pemerintah mesti menang dengan mengerjakan proses penyeleksian lazim yang bebas dan adil, tanpa paksaan,” kata Gulen.

Menurut Gulen, selaku seseorang yang sudah menderita alasannya yakni beberapa perebutan kekuasaan militer selama lima dekade terakhir, tuduhan kepada dirinya itu yakni suatu hinaan besar.

“Saya tidak pernah menyiapkan itu. Saya tegas membantah tuduhan tersebut," kata ulama moderat yang memiliki banyak pengikutinya di Turki. Washington belum berkomentar atas pernyataan keras Turki yang disampaikan oleh PM Yildirim.
(sumber)

0 comments:

Post a Comment